Sabtu, 13 September 2014

Memilih ''The Third Way'' (2)

23 Oktober 2006 pagi. Hari ini aku memutuskan untuk tetap berpuasa. Aku sudah mantap mengikuti keputusan pemerintah pusat yang menetapkan 1 Syawal jatuh pada 24 Oktober. Berbeda dengan sebagian saudaraku dari kalangan Muhammadiyah dan Pengurus Wilayah NU Jawa Timur yang tahun ini kompak untuk mengakhiri ibadah puasa pada 22 Oktober lalu.

Pagi ini, mereka menjalankan salat Id. Pemkot Surabaya juga memutuskan untuk berlebaran pada 23 Oktober, sedangkan Pemprov Jatim tetap mengikuti jadwal lebaran yang ditetapkan pemerintah pusat, yakni 24 Oktober.

Mulai pagi ini plus besok, mayoritas wartawan, redaktur, dan teman-teman lain dari koran ini sudah mulai menjalani masa liburan singkatnya. Hanya tim koran lebaran (korleb) yang tetap masuk. Sebagai anggota tim korleb, aku kebagian jatah untuk membuat tulisan mengenai suasana berlebaran tiga tokoh Surabaya yang telah salat Id pada 23 Oktober. Mereka adalah Rektor ITS M.Nuh, Ketua PW NU Jatim Ali Maschan Moesa, dan Walikota Surabaya Bambang D.H.

Perjalanan pagi itu aku mulai dengan menemui Pak Nuh yang menjadi khatib salat Id di Stadion Gelora 10 November. Dari sana aku langsung ngintil di belakang mobil yang membawa Pak Nuh pulang ke kediaman. (Alamatnya lupa...he.he.he. Soalnya, korleb versi pdf tahun itu masih belum terlacak, sedangkan koran versi cetak yang dulu sempat tersimpan juga sudah hilang)

BARISAN YANG RAPI: Lebih dari 2.000 warga Surabaya mengikuti salat Id
di Stadion Gelora 10 November pada 23 Oktober 2006.
Aku berada di rumah Pak Nuh hampir selama satu jam. Mengikuti acara maaf-maafan keluarga yang sebenarnya sangat privat. Untungnya, Pak Nuh dan keluarga sudah memahami style koranku. Jadi, mereka sangat wellcome dengan kehadiranku.

BERBAKTI: Pak Nuh mencium tangan ibunda sepulang dari salat Id.

 
Dengan ramah, Pak Nuh mengajakku gobrol ringan sembari meladeni tetangga dan kerabat yang datang silih berganti. ''Kalau soal hidangan di rumah saat lebaran, yang pasti selalu ada apa ya Pak Nuh?,'' tanyaku. ''Sop kepala kambing. Ini yang paling top. Wajib dicoba,'' jawab Pak Nuh. ''Eh, tapi kamu masih puasa ya? Sudah, nanti bawa pakai rantang. Enggak boleh ditolak. Buat berbuka nanti bareng teman-teman di kantor,'' lanjut pria kelahiran Surabaya, 17 Juni 1959 itu.

Alhasil, pagi itu aku meninggalkan rumah Pak Nuh dengan menenteng rantang berisi kepala kambing utuh. Lengkap dengan lidahnya, matanya, bibirnya, giginya, semuanya. Kebetulan sop kepala kambing adalah salah satu menu pavoritku. ''Biar kamu tidak repot, rantangnya nanti enggak usah dikembalikan,'' pesan Pak Nuh, lantas tersenyum.

(Begitulah Pak Nuh yang tujuh bulan kemudian ditunjuk SBY menjadi Menteri Komunikasi dan Informatika dan mulai 2009 didapuk menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan).

Road show hari itu masih terus berlanjut ke kediaman Kiai Ali Maschan dan rumah dinas Pak Walikota Bambang D.H. Alhamdulillah, masih sempat (di antaranya) memotret acara sungkeman masing-masing keluarga. Sekali lagi, mohon maaf lahir dan batin.

SALING MENGIKHLASKAN: Sungkeman Kiai Ali Maschan bersama istri, Mai Yetti.

HARMONIS: Sungkeman keluarga Walikota Surabaya Bambang D.H.
setelah mengikuti salat Id di Taman Surya pada 23 Oktober 2006.

  to be continued...

 

*Foto-foto diambil dengan kamera ''poket'' Samsung Digimax A40.

Senin, 08 September 2014

Memilih ''The Third Way'' (1)

Ujian terberat menjadi wartawan di koran ini akhirnya terungkap juga.

Terbongkar dengan sendirinya.

Tanpa didahului kicauan seorang whistle blower, maupun bocoran dari sumber.

 

MASIH SUNYI: Deretan sembilan beduk untuk menyambut malam Idul Fitri di Gedung Grahadi, Jalan Pemuda ini telah disiapkan sejak Minggu, 22 Oktober 2006. Namun, beduk-beduk tersebut baru ditabuh pada 23 Oktober malam. Sebab, pemprov mengikuti kalender pemerintah bahwa lebaran jatuh pada 24 Oktober.

 

Yang jelas ujian terberat itu bukan ''muntaber'' selama dua atau tiga hari berturut-turut. Muntaber itu singkatan dari ''muncul tanpa berita''. Maksudnya koran terbit tanpa ada satu pun berita yang kita tulis di dalamnya. Meskipun menyedihkan dan memalukan, itu sih masih tergolong kejadian biasa. Solusinya : tetap tertawa, makan, dan tidur. Besoknya, liputan lagi, ke kantor lagi, lalu bikin berita lagi.

 

Dimarahi redaktur karena berita yang ditulis belum masuk kriteria layak JP? Ah, itu juga biasa. Apalagi, masih tergolong wartawan baru, eh calon wartawan. Solusinya masih sama : tetap tertawa, makan, dan tidur. Besoknya, liputan lagi, ke kantor lagi, dan bikin berita lagi.

 

Jadi, apa ujian terberat itu? Ini jawabannya saudara-sedulur : tidak bisa mudik saat lebaran. Bukan karena gaji dari koran ini tidak cukup untuk ongkos mudik, melainkan akibat jatah libur lebaran yang sangat sempit. Hanya dua hari, yakni H-1 lebaran dan lebaran hari pertama. Memasuki H+1 lebaran, semua awak redaksi, tanpa terkecuali, sudah harus masuk kantor dan kembali beraktivitas normal.

 

Libur yang hanya dua hari itu mungkin bukan masalah bagi teman-teman yang mudiknya masih di sekitar Jawa Timur, Jawa Tengah, atau Jogjakarta. Meskipun pasti terkena imbas macet akibat padatnya arus mudik, namun relatif masih bisa diatasi. Bahkan, tetap dapat dinikmati. Libur yang hanya dua hari itu benar-benar menjadi menjadi masalah dalam konteks kondisiku sebagai perantauan dari luar Jawa.

 

Untuk mudik ke kampungku di pelosok negeri segantang lada (julukan Provinsi Kepulauan Riau), butuh waktu setidaknya empat hari. Itu hanya sekadar perjalanan pergi (pesawat plus menyeberang dengan kapal sampai dua kali), sungkeman sambil bercengkerama dengan orang tua dan keluarga selama 4 jam, numpang tidur 6 jam di malam yang sama, kemudian menjelang subuh langsung balik lagi ke Kota Pahlawan.

 


BEREBUT PENUMPANG: Suasana Terminal Purabaya atau Bungurasih pada 22 Oktober 2006. Sampai lebaran tahun 2005 lalu, aku masih ''transit'' di terminal ini untuk selanjutnya pindah ke bus dalam kota jurusan Tanjung Perak. Dari Perak perjalanan akan berlanjut dengan Kapal Pelni selama dua hari tiga malam menuju Pelabuhan Kijang di Pulau Bintan (Tanjung Pinang). Long journey, but I'm happy.

 

CARI SIMPATI: Bila di ruang keberangkatan banyak kondektur dan calo berebut penumpang, di halaman depan terminal juga banyak berdiri posko-posko kesehatan milik parpol.

 

Akhirnya, mau tidak mau, aku tidak mudik. Opsinya kini tinggal dua. Berlebaran di Malang sambil bersilaturahmi ke rumah calon mertua atau gabung bersama keluarga paman di kawasan tapal kuda, Situbondo.

 

Saat sedang menimang-nimang kedua opsi itulah, muncul ilham untuk memilih jalan alternatif. Semacam the third way –meminjam istilah Anthony Giddens, seorang sosiolog asal Inggris. Jalan ketiga yang sangat dramatis itu adalah bergabung dengan tim koran lebaran (korleb). Wow...

 

Koran ini memang koran yang selalu terbit di semua tanggal merah, termasuk Idul Fitri. Keputusan untuk tetap terbit saat lebaran itu, kalau tidak keliru, mulai berjalan tahun 2003. Khusus saat Idul Fitri, tidak semua awak redaksi dan supporting system ikut masuk. Paling hanya seperlima dari total kekuatan saat hari normal. Selain berdasarkan giliran, pilihan untuk bergabung dengan tim korleb ini terkadang juga merupakan panggilan batin. Seperti aku, aku, akuuuu…yang telah menganggapnya sebagai the third way. (kwkwkwk)

 

Tetapi, kalau direnungkan, keputusan koran ini untuk tetap terbit saat Idul Fitri sebenarnya sudah tepat. Tengok saja, televisi dan radio masih mengudara menghibur pemirsa. Media online juga terus meng-update berita. Kalau koran ini menjadi satu-satunya koran cetak yang tetap terbit saat lebaran, itu bukan karena perusahaan ini tidak manusiawi atau kemaruk untuk terus mengumpulkan pemasukan dari iklan. Koran ini hanya ingin membuktikan bahwa media cetak tidak kalah dari berbagai alternatif media lain yang tetap menyuguhkan karya. Toh tidak semua awak redaksi ikut masuk. Hanya beberapa orang yang komposisinya selalu berganti setiap tahun. Mengapa hanya jurnalis televisi, radio, dan online yang konsisten berburu berita terbaik sambil mengucap takbir dalam hati di malam yang fitri? Mengapa jurnalis koran harus mendapatkan keistimewaan? Apa karena jurnalis koran memang sudah kalah militan? Apa memang koran sudah saatnya dikubur jauh di bawah kerak bumi? Koran ini sudah menjawabnya dengan terus terbit!

 

Sekali lagi, keputusan koran ini untuk tetap terbit saat Idul Fitri sudah seratus persen tepat. Cuma mungkin perlu difikirkan kembali kemungkinan jatah libur lebaran yang lebih longgar. Termasuk buat WNI (wartawan narsis imigran) dari luar Jawa sepertiku. Sekali-sekali aku juga ingin kembali memeluk orang tua, sanak saudara, dan teman-teman masa kecil di pagi nan fitri. Yak…seribu kali tepok jidat. Prok.prok.prok…prak.

 

to be continued...

 

*Foto-foto diambil dengan kamera ''poket'' Samsung Digimax A40.