Ujian terberat menjadi wartawan di koran ini akhirnya terungkap juga.
Terbongkar dengan sendirinya.
Tanpa didahului kicauan seorang whistle blower, maupun bocoran dari sumber.
Yang jelas ujian terberat itu bukan ''muntaber'' selama dua atau tiga hari berturut-turut. Muntaber itu singkatan dari ''muncul tanpa berita''. Maksudnya koran terbit tanpa ada satu pun berita yang kita tulis di dalamnya. Meskipun menyedihkan dan memalukan, itu sih masih tergolong kejadian biasa. Solusinya : tetap tertawa, makan, dan tidur. Besoknya, liputan lagi, ke kantor lagi, lalu bikin berita lagi.
Dimarahi redaktur karena berita yang ditulis belum masuk kriteria layak JP? Ah, itu juga biasa. Apalagi, masih tergolong wartawan baru, eh calon wartawan. Solusinya masih sama : tetap tertawa, makan, dan tidur. Besoknya, liputan lagi, ke kantor lagi, dan bikin berita lagi.
Jadi, apa ujian terberat itu? Ini jawabannya saudara-sedulur : tidak bisa mudik saat lebaran. Bukan karena gaji dari koran ini tidak cukup untuk ongkos mudik, melainkan akibat jatah libur lebaran yang sangat sempit. Hanya dua hari, yakni H-1 lebaran dan lebaran hari pertama. Memasuki H+1 lebaran, semua awak redaksi, tanpa terkecuali, sudah harus masuk kantor dan kembali beraktivitas normal.
Libur yang hanya dua hari itu mungkin bukan masalah bagi teman-teman yang mudiknya masih di sekitar Jawa Timur, Jawa Tengah, atau Jogjakarta. Meskipun pasti terkena imbas macet akibat padatnya arus mudik, namun relatif masih bisa diatasi. Bahkan, tetap dapat dinikmati. Libur yang hanya dua hari itu benar-benar menjadi menjadi masalah dalam konteks kondisiku sebagai perantauan dari luar Jawa.
Untuk mudik ke kampungku di pelosok negeri segantang lada (julukan Provinsi Kepulauan Riau), butuh waktu setidaknya empat hari. Itu hanya sekadar perjalanan pergi (pesawat plus menyeberang dengan kapal sampai dua kali), sungkeman sambil bercengkerama dengan orang tua dan keluarga selama 4 jam, numpang tidur 6 jam di malam yang sama, kemudian menjelang subuh langsung balik lagi ke Kota Pahlawan.
![]() |
| CARI SIMPATI: Bila di ruang keberangkatan banyak kondektur
dan calo berebut penumpang, di halaman depan terminal juga banyak berdiri
posko-posko kesehatan milik parpol. |



Tidak ada komentar:
Posting Komentar