Minggu, 24 Agustus 2014

Kameraku, Asetku

1 September 2006. Akhirnya, tiba juga waktu untuk mencicipi gaji pertama di koran ini. Jangan tanya jumlahnya. Yang jelas, nominalnya lebih tinggi di atas UMK Surabaya. Cuma tidak terlalu tinggi juga. Rekeningku pun tambah gendut. Cuma tidak terlalu gendut juga. Ya...pas-lah. (Ya...sudah-lah)


Beberapa hari sebelum gaji itu ditransfer kantor, aku sudah punya rencana. Aku akan membeli kamera poket. Seorang wartawan, idealnya memiliki kamera. Meskipun koran ini memiliki banyak fotografer handal, sebuah peristiwa tidak pernah mau menunggu. Peristiwa yang penting atau menarik bisa jadi hanya berlangsung selama beberapa detik. Sayang sekali bila momen itu terlewatkan. Padahal, foto yang diperoleh wartawan bukan sekadar pelengkap berita. Hadirnya foto itu justru bisa mengkapitalisasi kualitas berita hingga berkali-kali lipat. Sebaliknya, tanpa foto, bisa jadi sebuah berita akan terjerembap menjadi tidak lagi terlalu berharga. Satu foto kecil di pinggiran halaman pun bisa menjadi penyelamat tampilan koran.

 

Namun, niatku untuk membeli kamera digital bukan semata-mata soal dedikasi. (cieee...) Memiliki kamera digital kebetulan merupakan keinginan lama yang belum sempat terealisasi. Bukan karena tidak punya uang. Saat lulus kuliah, aku sebetulnya sudah punya tabungan yang cukup lumayan. (cieee...) Hasil dari aktivitas menulisku selama berstatus mahasiswa. Bahkan, komputer di kamar kos dan handphone juga aku beli sendiri dari uang hasil aktivitas tulis-menulis itu. Cuma sebelumnya, entah kenapa, aku selalu menunda-nunda untuk membeli kemera digital.

 

Setelah menjadi wartawan, aku semakin termotivasi untuk segera membelinya. Banyak momen menarik yang sayang bila tidak diabadikan. Membeli kamera ini akhirnya lebih sebagai kebutuhanku sendiri. Toh di luar kepentingan tugas jurnalistik, kamera ini bisa dipakai buat narsis bareng teman-teman, saat jalan-jalan, atau untuk selfie di kamar mandi.

 

Setelah tanya sana sini, akhirnya pilihanku, eh lebih tepatnya ''kekuatan'' gaji pertamaku hanya setara kamera Samsung Digimax A40. Sesuai harganya, resolusi maksimumnya juga cuma 4 mega pixel. Untuk ukuran waktu itu, kamera poket semacam ini sudah cukup lumayan. Ya...pas-lah. (Ya...sudah-lah)

 

BERJASA: Beginilah tampilan kamera poket pertamaku yang berwarna silver itu. Hanya bisa repro gambar dari buku petunjuk produk, karena kamera aslinya terlanjur kubuang sekitar Juli 2014 lalu. Kondisinya sudah rusak parah dan karatan. Yang tersisa, tinggal buku petunjuk dan CD installer program. Ada yang berminat untuk membelinya?

THE DARK BLUE: Kebetulan ketemu foto sarung kameranya. Cuma bisa terlacak tanggal pengambilan gambarnya, yakni 22 Juli 2007. Posisi sudah di Jakarta, tapi lupa persisnya sedang di mana atau liputan apa. Sarung ini juga ikut terbuang.


Kelemahan alamiah dari kamera ini tentunya jarak efektif flash kamera yang relatif pendek. Berdasarkan pengalaman, jarak aman untuk menghasilkan foto yang lumayan bagus harus kurang dari lima meter. Di atas itu, kualitas gambar sudah tidak lagi optimal. Biasanya buram, karena kurang pencahayaan. Akhirnya, mau tidak mau, dengan membuang semua perasaan sungkan atau malu, sambil tetap senantiasa menjaga etika dan kesopanan, aku harus berusaha mendekat sedekat-dekatnya ke obyek foto. Kalau perlu sampai embusan nafasnya mengukir di wajahku dan embusan nafasku menerbangkan semua debu atau bedak di wajahnya. (kwkwk)

 

  Beberapa bulan setelah memiliki kamera ini dan posisi penugasan dipindah ke Jakarta, aku mendapatkan teori dasar fotografi yang sangat penting. Bukan tentang setting kamera yang ribet atau tetek bengek pencahayaan, tetapi tentang cara memegang kamera yang benar. Memang sederhana. Tetapi, ini justru sangat mendasar.

 

Orang yang berbagi ilmu itu bernama John Mohn. Dia adalah bule pemilik koran lokal, Ellinwood Leader, sekaligus orang tua asuh Dirut PT Jawa Pos Koran Azrul Ananda saat mengikuti program pertukaran pelajar di Ellinwood High School, Kansas, Amerika (1993-1994). Selama mengikuti program pertukaran pelajar itu, Azrul ikut berkonstribusi sebagai fotografer sambil sesekali menulis untuk mengisi rubrik Eagles di Koran Ellinwood Leader. Kebetulan rubrik Eagles memang dikerjakan tim jurnalistik SMA.

 

Saat memberikan paparan mengenai jurnalistik di hadapan awak redaksi Jawa Pos biro Jakarta, John Mohn meminta kami menunjukkan kamera yang dibawa saat liputan. Begitu melihat kamera poketku yang mungil, John Mohn langsung mengambilnya. ’’Cara memegang semua kamera, pada dasarnya sama. Kamu harus memegangnya seperti seorang pemburu yang sedang memegang senapan. Jangan naik turun. Harus stabil agar gambar yang dihasilkan baik,’’ kata John Mohn. Dia lantas menunjukkan bahwa memegang kamera dengan posisi tangan dalam posisi lurus ke depan itu salah. Sebab, saat tombol shutter ditekan, posisi kamera pasti akan ikut bergerak turun. Yang benar adalah siku tangan harus tertekuk dan tanpa celah pada bagian ketiak. Posisi ini lebih stabil. ’’Ingat seperti pemburu,’’ tegas John Mohn.

 

Ada beberapa hasil jepretanku dengan menggunakan kamera poket yang file-nya sempat tersimpan. Banyak juga yang file-nya terlanjur kehapus atau error. Kualitasnya jelas masih jauh di bawah karya fotografer. Cuma aku tidak peduli. Memandang dan mengingatnya tetap memberikan rasa kepuasan tersendiri. Aku menikmati prosesnya. Apalagi, beberapa foto ini sempat ikut mewarnai tampilan koran. Ada yang nempel di pinggiran, ada juga yang nongol menjadi foto berukuran paling besar di halaman.

 

INGIN MAJU: Peneliti LIPI Hermawan Sulistiyo sedang mendaftarkan diri untuk menjadi calon gubernur (cagub) Jatim dari PDIP pada 27 Oktober 2006. Namun, langkah penulis buku Palu Arit di Ladang Tebu itu mental, karena sudah melewati batas akhir penjaringan cagub dan cawagub Jatim dari PDIP yang berakhir 21 Oktober 2006. Saat datang ke kantor DPD PDIP Jatim di Jalan Kendangsari, Kiki, sapaannya, juga membawa lima kardus berisi buku-buku karyanya yang kemudian dibagi-bagikan. Aku juga mengambil salah satu buku. Judulnya, Bedil dan Kursi : Dimensi Politik Militer Indonesia, Penerbit Pensil 234, Jakarta, Juni 2004. Buku seukuran buku tahlil itu hingga sekarang masih tersimpan di rak buku. (Berita dan foto dimuat edisi 28 Oktober 2006, hal.22)

HAJAR: Wakil Ketua DPR Soetarjo Soerjoguritno (alm) bergaya seolah hendak memberikan bogem mentah kepada seorang pria yang mengenakan topeng wajah Presiden AS George W. Bush pada 8 November 2006. Aksi Mbah Tardjo itu, begitu sapaannya, dilakukan setelah menerima puluhan perwakilan Forum Umat Islam (FUI) di gedung DPR. Pria bertopeng Bush itu juga bagian dari rombongan. Mereka menyatakan menolak kedatangan Bush ke Indonesia pada 20 November 2006. (Foto tidak dimuat, kalah kelas sama punya fotografer. he.he.he)

TERMENUNG: Gedung DPR, 5 Desember 2006. Marissa Haque menjelaskan alasan yang memotivasinya mengadukan Ratu Atut Chosiyah ke Mahkamah Agung (MA) terkait pilgub Banten. Anggota DPR dari PDIP itu maju dalam pilgub dengan menggandeng Zulkiflimansyah menggunakan kendaraan PKS, namun kalah. (berita dan foto dimuat edisi 6 Desember 2006)

SYUKURAN : Puluhan mahasiswa yang bergabung dalam Jaringan Kota menyambut gembira pembatalan pasal 134, 136 bis, dan 137 KUHP tentang penghinaan terhadap presiden oleh Mahkamah Konstitusi. Mereka merayakan putusan itu dengan menggelar demo sambil membakar lebih dari dua puluh kertas karton bertulisan nama presiden dan wakil presiden di depan gedung DPR pada 7 Desember 2006. (Berita dan foto dimuat edisi 8 Desember 2006)

CABUT MANDAT: Dengan bendera Gerakan Kebangkitan Indonesia Raya (GKIR), pada 19 Desember 2006, mantan Wakil Presiden Try Sutrisno mendatangi pimpinan DPR Agung Laksono untuk menyatakan kekecewaannya atas kinerja duet SBY-JK. (berita dan foto dimuat edisi 20 Desember 2006)

DEMO ALONE: Dr Sri-Bintang Pamungkas tidak kehilangan semangat meski demo sendiri dan berhujan-hujan. Bahkan, gedung DPR tempatnya demo pada 29 Desember 2006 itu sedang sepi karena reses. Dengan badan kuyup, dia menuntut bentuk pemerintah baru, turunkan harga, dan berantas korupsi. (foto dimuat edisi 30 Desember 2006)

KAU KE SANA, AKU KE SINI: Taufiq Kiemas dan Megawati Soekarnoputri duduk berdampingan saat rapat kerja nasional (Rakernas) I PDIP di Hotel Inna Grand Bali Beach, Sanur, pada 8 Januari 2007. (berita dimuat, fotonya enggak. he.he.he)

DUKUNG CALON PERSEORANGAN: dari kiri, Effendi M. S. Simbolon, Habudi, Jarwo Kuat, Olga Lidya, Rama Pratama, Effendy Gazali, dan Effendy Choirie setelah rapat dengar pendapat dengan Pansus RUU DKI Jakarta di DPR pada 12 Juni 2007. Mereka meminta agar calon independen diakui dalam pemilu kada. (foto dan berita dimuat edisi 13 Juni 2007)


PROTES: dari kiri, Fuad Bawazier dari Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), Hamdan Zoelva dari Partai Bulan Bintang (PBB), dan Roy BB Janis dari Partai Demokrasi Pembaruan (PDP) mengkritisi electoral threshold (ET) yang muncul dalam pembahasan UU Pemilu di DPR pada 7 Juli 2007. (foto dan berita tidak dimuat)

GAYENG: Zannuba Ariffah Chafsoh alias Yenny Wahid saat bakti sosial dalam rangka Harlah Ke-9 PKB di TPA Bantar Gebang, Bekasi, pada 19 Juli 2007. Ketika itu, Yenny masih menjabat Sekjen Dewan Tanfidz DPP PKB. (berita dimuat, fotonya lewat...)

SAYA DI SINI, PAK: Politikus Partai Bintang Reformasi (PBR) Junisab Akbar menjabat tangan Ketua DPR Agung Laksono setelah dilantik menjadi anggota DPR menggantikan Zaenal Ma’arif di gedung DPR pada 31 Juli 2007. Selama pelantikan, wajah bapak empat anak kelahiran Medan, 23 Juni 1964 itu terlihat sangat tegang. (foto dan berita dimuat edisi 1 Agustus 2007)

MASIH AKUR: Dari kiri, Ketua Fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB) DPR Effendy Choirie, Wakil Ketua DPR yang juga Ketua Tim Pengawas Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS) Muhaimin Iskandar, Ketua Umum Dewan Syura DPP PKB Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dan Ali Masykur Musa di Kantor PB NU, Jalan Kramat Raya, 22 Agustus 2007. Mereka menyatakan bakal serius mengawal Tim Pengawas BPLS. (berita dan foto dimuat 23 Agustus 2007)

SEMANGAT MUDA: Dari kiri, Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan, Ketua Umum GP Ansor Syaifullah Yusuf, Menteri Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault, dan anggota DPR dari Partai Golkar Yuddy Chrisnandy di Museum Sumpah Pemuda, Jalan Kramat Raya No. 106, Jakarta Pusat, pada 29 Oktober 2007. (foto dan berita tidak dimuat)

KIKIS STIGMA ARTIS CUMA PEMANIS POLITIK: Anggota Dewan Pakar Cendekiawan Marhaenis Rieke Dyah Pitaloka berpidato di Gedung Joeang, Cikini, Jakarta Pusat, 1 Maret 2008. Ormas yang anggotanya terdiri dari para intelektual penganut paham marhaenisme itu menyerukan perlunya merevitalisasi ajaran Bung Karno. (foto dan berita dimuat edisi 2 Maret 2008)

OPTIMISTIS: Ketua Umum DPP PPP Suryadharma Ali mengenakan jaket kebanggaan PPP kepada Akri ’’Patrio’’ dalam acara Harlah Ke-1 Ikatan Silaturahmi Istri (Ikastri) PPP di Lapangan Tennis Indoor Senayan, Jakarta, 27 April 2008. (foto dan berita dimuat 28 April 2008)


 
MENGENANG ORTU: Dari kiri, Guruh, Sukmawati, dan Guntur Soekarnoputra. Putra-putri presiden pertama RI Bung Karno itu memperingati 107 tahun proklamator RI sekaligus 63 tahun Pancasila secara sederhana di Gedung Pola, Jalan Proklamasi 56, Jakarta Pusat, pada 6 Juni 2008. (foto dan berita dimuat 7 Juni 2008)

BELAJAR POLITIK: dari kiri, Marini Zumarnis, Henidar Amroe, Maylaffayza, dan Eko ’’Patrio’’ Hendro Purnomo saat mengikuti pelatihan caleg PAN di Jalan Cipaku II, Kebayoran Baru, Jakarta, 17 Oktober 2008.

Tidak ada komentar: