Sabtu, 16 Agustus 2014

Hanya Tiga Bulan


PERTAMAX: Selama enam bulan memakai ID ini,
setiap mau wawancara, pasti duluan aku yang
ditanya. ’’Treini (Trainee) mas?’’. Tambah jengkel
kalau ada yang sok akrab,’’Oh, lagi di-trai (try/coba) nih ye''.

Tanggal penting itu adalah 3 Agustus 2006. Kamis Pahing. Inilah hari pertama resmi menjadi wartawan. Ups, lebih tepat disebut calon wartawan. Aktivitas hari pertama saat itu adalah pembekalan di kelas. Semacam diklat singkat jurnalistik. ’’Pak Bos’’ Dahlan Iskan juga sempat datang memberi wejangan. Tidak terlalu lama, sekitar 30 menit saja. Intinya, soal konsep berita layak JP. Maksudnya, berita yang  sudah dianggap memenuhi standar untuk dimuat koran lain belum tentu masuk kriteria layak dimuat koran ini. Kegiatan di kelas terus berlangsung sampai sore. Para redaktur menjadi pemateri secara bergantian.


Menjelang magrib, kami semua diminta menuju ruang redaksi. Ruangan luas yang saat pagi hingga siang masih tampak sepi itu kini benar-benar hidup. Puluhan wartawan yang seharian berkeringat melakukan liputan telah datang dan sibuk mengetik di mejanya masing-masing. Kami, para newcomer, lalu diminta untuk berdiri mengambil posisi melingkar di sekeliling meja bundar yang terletak di tengah ruang redaksi. Olala, rupanya meja bundar besar ini adalah meja sakral. Tempat para redaktur menggelar rapat harian untuk menentukan arah koran edisi besok. Termasuk, untuk menerima tamu-tamu perusahaan. Setelah itu, kami diberi mikrofon dan secara bergiliran memperkenalkan diri. Gema tepuk tangan terus terdengar mengiringi acara perkenalan singkat itu. Rasanya sesuatu banget. Very amazing–meminjam istilahnya Mas Tukul.

 

Memasuki hari kedua, seorang di antara 20 wartawan seangkatanku mendadak mengundurkan diri. Entah apa alasannya. Kami merasa sangat kehilangan. Bukan apa-apa. Kehadirannya, meski hanya sehari, terbukti mampu menjadi semacam relaksasi yang dapat melemaskan lutut, pundak, dan kaki. Ha.ha.ha. Pada hari kedua inilah, kami mulai membuat dan memiliki kode.


Setiap wartawan di koran ini memang memiliki kode yang selalu dicantumkan di bagian akhir tulisan beritanya. Minimal dua huruf dan paling banyak tiga huruf. Terserah apa saja. Huruf vokal semua boleh. Huruf konsonan semua juga silahkan. Suka-suka setiap wartawan, karena difikirkan dan dipilih sendiri oleh wartawan bersangkutan. Umumnya menggunakan inisial nama atau penggalan suku kata namanya. Kode ini sangat personal, karena sekaligus menjadi nama panggilan dalam pergaulan sehari-hari di kalangan redaksi. Makanya, kami sangat berhati-hati dalam memilih kode. Sebab, ini menyangkut harga diri, eh identitas diri. Setahuku sampai sekarang belum ada yang menggunakan kode ''til'' atau ''tol''. Mungkin takut dipelintir menjadi....buntil dan pentol (keduanya nama makanan). Seperti sidik jari antarmanusia yang selalu berbeda, tidak ada wartawan aktif di koran ini yang kodenya sama.


Saat itu, aku memilih kode ’’phd’’. Ini merupakan inisial namaku dalam format tiga huruf. Namun, di balik itu, penggunaan kode ini juga mewakili doa yang masih kupelihara : ’’Mudah-mudahan nanti terbuka jalan untuk jadi doktor’’. Doa yang –belakangan kupahami –dalam konteks profesi ini dan situasi waktu itu agak terdengar aneh. Tapi, apapun itu, semua teman seangkatanku terlanjur membaptisku dengan kompak : amiiiin...


Hari ketiga, kami mulai dilepas ke lapangan untuk praktik liputan dan menulis berita. Terserah mau ke mana, mau bikin berita apa, atau wawancara siapa saja. Yang penting, pulang bawa berita layak JP. Meskipun status kami masih ’’trainee’’, berita yang dianggap layak JP, berpeluang untuk dimuat. Malamnya semua berita yang kami tulis dibedah bersama redaktur. Termasuk, pengalaman yang dialami saat proses mendapatkan berita itu. Ilmu terbaik memang ilmu yang langsung diserap atau dikonfirmasi kepada pengalaman lapangan. Kemampuan jurnalistik pasti akan berkembang dengan sendirinya melalui praktik liputan.


Memasuki minggu kedua, ladang penugasan semakin jelas. Aku kebagian pos kriminal Kota Surabaya. Pertimbangannya sederhana. Di antara teman-teman seangkatanku, wajahku yang dianggap paling pantas masuk daftar pencarian orang (DPO). Wajah kucel dengan kombinasi jaket jins warna hitam. Klop untuk berurusan dengan para penjahat dan polisi.


Padahal, menjadi wartawan kriminal sama sekali tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Selama ini, interaksiku dengan polisi paling hanya dalam dua kondisi. Pertama, saat demo. Kedua, saat kena tilang. Tempat kejadian perkara (TKP) sama-sama di jalanan. Sudut pandangku seperti dijungkir balik. Aku tidak yakin perasaanku saat itu. Yang aku ingat, aku hanya merasa tertantang. Bagiku semua tantangan harus dihadapi. Tidak peduli menang atau kalah. Ini sudah semacam penyakit kejiwaan yang sulit disembuhkan. Padahal, seringkali arogansi ini membuatku terperangkap dalam situasi yang rumit dan kompleks di kemudian hari.


Begitulah, menjadi wartawan tetap suatu dunia yang benar-benar baru. Semasa mahasiswa, aku memang kerap berhubungan dengan sejumlah wartawan di Kota Malang. Silaturahmi dengan teman-teman pers kampus pun terbilang dekat. Saat itu, aku juga ’’super aktif’’ dalam dunia penulisan. Berkali-kali menang lomba karya tulis. Banyak artikelku sukses menembus media. Tapi, aktivitas dan karyaku dalam periode itu jelas bukan aktivitas dan karya jurnalistik. Dunia penulisan yang sebelumnya kugeluti sangat jauh berbeda. (Nanti akan aku detilkan melalui tulisan yang lain)


Tetapi, wartawan tidak boleh menolak penugasan. Diberangkatkan kemana saja harus siap. Aku pun mulai wira-wiri dari satu polsek ke polsek lain atau dari satu TKP ke TKP lain. Aku ditandem dengan ’’CK’’, wartawan asli arema yang berjarak tiga musim rekrutmen di atasku. Waktu itu, dia kebetulan baru mengalami kecelakaan sepeda motor. Tangannya yang sebelah kiri masih dibalut gips. Namun, semangatnya untuk liputan tidak pernah surut. Meskipun hanya menggunakan satu tangan, dia masih mampu merampungkan tulisan di komputer dengan cepat. Sepertinya dia memang sangat terlatih beraktivitas dengan satu tangan itu. Hus....kwkwkwk


Dari CK, aku belajar untuk lebih luwes dalam berinteraksi. Baik dengan polisi, maupun perempuan. kwkwkwk. Enggak, yang tadi cuma bercanda. Yang benar adalah : baik dengan lawan jenis, maupun petugas keamanan...ha.ha.ha

 

Intinya, bagaimana membangun kedekatan dengan intel lapangan, penyidik yang bergaya perlente, kapolsek, polisi tua di balik meja jaga, sampai pelaku kriminal yang mukanya penuh benjut, hajarrr. Sesekali pasang gaya garang, sesekali siap ndan! Saat inilah aku meresapi makna tentang doktrin : jangan sampai kebobolan berita dan jangan sampai kalah data. Sebaliknya, kita harus bisa mengalahkan berita koran lain. Untuk itu, harus detil, peka terhadap semua informasi sekecil apapun itu.


Tetapi, perjalananku di pos kriminal tidak berumur panjang. Awal September, saat pengalamanku masih seumur jagung, saat teman-teman seangkatanku mulai memberiku label wartawan ’’dar der dor’’, aku digeser ke DPRD Jatim dan Pemprov Jatim. Eh, dar der dor itu salah satu nama rubrik dalam halaman kriminal. Konsepnya adalah mengeksplorasi potensi humor di balik sebuah berita kriminal. Kalau pun tidak bisa membuat pembaca terpingkal-pingkal, setidaknya mesem. (Mesem mergo beritamu ora lucu blas, ndeng). Nah, aku termasuk kontributor tetap rubrik dar der dor yang posisinya selalu berada di pinggir halaman ini. he.he.he


Masuk ke pos baru di gedung dewan dan kantor pemprov, aku ditandemkan dengan ’’FS’’, wartawan yang jauh lebih senior. Satu ciri khasnya, kemana-mana selalu mengenakan topi. Saat rapat pengumuman adanya rolling pos wartawan inilah, Mas FS (bersama Cak ’’S’’) mendorongku untuk mengganti kode phd. ’’lek kode'ne mbulet, biasa'ne engkok jadi wartawan mbulet (kalau kodenya ruwet, biasanya nanti juga jadi wartawan yang ruwet),’’ kata Mas FS. ’’Kodemu iki ora (ini enggak) hoki,’’ timpal Cak S. Saat rapat itu juga, Mas FS dan Cak S mengusulkan agar aku mengganti kode phd menjadi pri. Akhirnya, tanpa selamatan, tumpengan, atau makan-makan, malam itu kodeku resmi didaulat menjadi pri dan terus kupakai sampai sekarang.


Pos baru, pengalaman baru, ilmu baru. Lagi-lagi aku dipaksa untuk belajar dan menyesuaikan ritme dengan cepat. Begitu masuk DPRD, para anggota dewan ternyata sedang menjalani reses. Ini adalah masa liburan, eh, masa bagi para wakil rakyat untuk bertemu konstituen dan menjaring aspirasi di daerah pemilihannya (dapil) masing-masing. Otomatis mereka tidak punya kewajiban untuk datang berkantor di gedung dewan. Di sisi lain, aku belum terlalu familier dengan isu-isu politik level Jatim.


Paceklik itu akhirnya datang juga. Hari ketiga di gedung dewan, aku panik setengah mati. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 14.00. Belum punya satu berita pun. Mati angin. Enggak ada ide untuk mewawancarai siapapun. Sudah tujuh kali tawaf keliling gedung dewan, tidak ketemu siapa-siapa. Tidak ketemu anggota dewan. Tidak ketemu rekan wartawan. Aku benar-benar sendirian. Hanya beberapa ekor ikan yang berlarian di tengah kolam. Oh, Tuhan. (Lebay le!)


Akhirnya, satu sms aku kirimkan ke Mas FS. Lama tak ada jawaban. Saat sudah bersiap-siap untuk salat istikarah minta petunjuk, tahu-tahu ada sms masuk. Balasan dari Mas FS. ’’Nang endi? Mreneo. (Di mana? Ayo ke sini)’’. ’’Sampeyan di mana?,’’ balasku. Mas FS bilang sedang berada di ruang pojok lantai dua. Tanpa fikir panjang, karena memang sudah tidak bisa berfikir lagi, aku segera merapat. Kebetulan aku tahu ruang yang dimaksud.

 

Pintu ruang pojok yang sering kosong itu pun kubuka perlahan. Tidak ada siapa-siapa di dalamnya. Aku baru saja balik badan ketika terdengar suara orang memanggilku. ’’Aku ndek ngisor (aku di bawah),’’ kata suara itu. Sambil membaca doa sebelum makan (Allahumma barik lana fima razaqtana waqina athabannar), karena hanya itu yang masih bisa kuingat, aku bergerak melongok ke kolong meja kayu berukuran lumayan besar itu. Dan, jebret, ternyata Mas FS sedang tidur-tiduran di sana. Aku merasa lega. Di sebelahnya, aku merasa aman. (indikasi homo?)


Begitu melihat raut wajahku, layaknya peramal, Mas FS langsung mafhum bahwa aku belum punya berita. Dia lantas menceritakan kepadaku sebuah isu yang sedang berkembang di internal dewan, kemudian menyuruhku menghubungi beberapa nama. Dia sendiri kemudian terdengar asyik ngobrol melalui handphonetetap dalam posisi di bawah meja.

 

Ah, lumayan, akhirnya punya berita. Aku bisa pulang ke kantor dengan membusungkan dada. He.he.he Malam itu, aku menulis dua berita. Salah satunya yang bersumber dari Mas FS. Sebelum diserahkan ke redaktur, berita itu masih ’’ditambahi’’ lagi oleh Mas FS. Kode kami berdua muncul di berita itu. Satu berita lagi kudapat sendiri saat injury time. Soalnya, malu juga kalau cuma setor satu berita. Mas FS sendiri masih menulis dua berita lagi. Salah satunya menjadi headline di halaman dalam. Keesokan harinya, sejumlah wartawan koran lain yang juga ngepos di gedung dewan terlihat lemas. Berita yang menetas di kolong meja itu ternyata hanya dimiliki oleh Mas FS alias eksklusif.


Dari kejadian itu, aku akhirnya memahami doktrin : tiada hari tanpa berita (eksklusif). Seorang wartawan mau tidak mau harus selalu punya berita, apapun kondisinya. Tentunya bukan berita asal ada, melainkan berita menarik yang lahir dari ide kreatif. Untuk bisa selalu memiliki ide kreatif yang dapat dikembangkan menjadi berita, wartawan harus memahami isu-isu hangat dan permasalahan sesuai konteks posnya masing-masing. Bukan hanya memahami kulit, tapi betul-betul menyelami secara detil setiap lekuk dan jepitannya. (opo sih)

 

Kuncinya sederhana saja, yakni peka dan suka nglutus. Bagi yang bukan orang Jawa, nglutus itu kurang lebih artinya berkeliaran suka-suka dengan penuh antusias. Seperti orang gila, tetapi antusias. Antusias, tetapi gila. Ini tafsir saya sendiri. Jangan protes kalau tidak mau dikira gila.

 

Membangun kedekatan dengan narasumber juga penting. Bukan hanya narasumber resmi (formal), namun juga narasumber ''kaum pinggiran'' (informal). Misalnya, orang yang biasa bertugas menyediakan kopi atau fotokopi. Penjaga kamar mayat di rumah sakit atau ibu-ibu penjaja warung yang bersebelahan dengan pos polisi. Seringkali informasi awal yang sangat berharga datang dari mereka.


Namun, petualanganku di DPRD dan Pemprov Jatim ternyata juga tidak berjalan lama. Sekitar awal November 2006 (tanggal persisnya lupa), aku diperintahkan kantor untuk berangkat ke Jakarta. Tidak ada negosiasi, apalagi penolakan. Ini perintah yang harus dijalankan. Aku sempat merasa sengaja dibuang. Merasa dianggap tidak layak di Surabaya, bahkan menjadi warga koran ini. Tetapi, penyakit kejiwaanku langsung kambuh. Aku merasa ini tantangan yang harus dihadapi. Tidak peduli hasilnya menang atau kalah.  Yang penting tawur dulu. Yang penting gaprak-gaprakan dulu. Apalagi, beberapa redaktur, rekan wartawan sekantor, dan kawan liputan di DPRD Jatim terus menyemangatiku. Bersama rekan seangkatanku, yaitu NWA, kami pun berangkat ke Jakarta. Setelah tiga bulan di Surabaya, kini waktunya mengucapkan assalammu'alaikum kepada ibukota negara.

Tidak ada komentar: