Minggu, 24 Agustus 2014

Mengapa Melamar?

’’Sejak masuk ke dunia kampus, secara perlahan aku mulai mengenal dunia gerakan dan tulis menulis. Sebuah dunia dinamis yang membuat aku selalu merasa bergairah dan berbahagia. Aku seperti menemukan diriku sendiri. 

 

Pintu masukku ke dunia tulis menulis secara serius sebenarnya berawal dari ajang lomba karya tulis ilmiah bagi mahasiswa baru yang diadakan oleh kampusku. Selanjutnya, seperti orang gila, aku kian aktif mengikuti berbagai lomba penulisan yang juga cukup sering diadakan oleh institusi-institusi lainnya. Jujur saja, yang menjadi orientasi utamaku ketika itu adalah kemenangan, kebanggaan, dan uang hadiah. Pada faktanya, berkali-kali aku berhasil mendapatkan itu semua. Aku senang, tetapi dalam waktu yang bersamaan aku merasa seperti ada yang masih kurang.

 

Prosesku dengan beberapa orang-lah yang kemudian memberiku banyak pencerahan. Aku akhirnya paham, jika kita berhenti pada motif yang sifatnya pragmatis dan materialistis semata, maka ketika berhadapan dengan masalah, kita akan lebih gampang mengalami disorientasi, kekecewaan, dan keputusasaan. Bahkan dari sudut pandang agama, sesungguhnya kita telah masuk ke dalam golongan orang-orang yang merugi.

 

Aku pun berusaha menyempurnakan niat. Aku mencoba untuk memandang menulis sebagai bagian dari ibadah dan pengabdian kepada masyarakat. Aku ingin menjadi bagian dari proses perubahan. Bahkan, kalau bisa, aku ingin ikut mendorong terjadinya sebuah pencerahan. Karena itu, aku ingin terus memiliki kesempatan untuk menulis dan menjadikannya sebagai pilihan jalan hidup. Menjadi wartawan koran ini, aku harap dapat menjadi jalan untuk melanjutkan mimpi dan idealisme itu. Mudah-mudahan saja!’’. (Tulungagung, 16 Juli 2006)

 

----------------------

Inilah empat paragraf terakhir dari tulisan yang kubuat delapan tahun lalu. Tulisan yang menjadi salah satu persyaratan untuk mengajukan lamaran ke koran ini. Kubuat di Tulungagung di sela-sela menggarap proyek penelitian terkait keuangan daerah dengan budget superminim. Di luar, langit sudah gelap dan gerimis mulai membentuk garis. Dengan disaksikan beberapa teman yang ikut penelitian tersebut, aku mulai mengetik tulisan pendek sepanjang tujuh paragraf yang intinya menjelaskan : mengapa aku tertarik menjadi wartawan. Beberapa di antara mereka saat itu masih menganggap aku tidak terlalu serius untuk mengajukan lamaran. Padahal...he.he.he



PADA SUATU MALAM: Bersama Iwhan Tri Cahyono di basecamp tim peneliti, Tulungagung, 16 Juli 2006. Laptop jadul di depan kami itulah yang aku gunakan untuk membuat surat lamaran ke koran ini beserta tulisan pendek yang menjadi salah satu persyaratannya.

Tidak ada komentar: