Selamat datang di ruang terbuka ini. Di sini, semua ide dan cerita boleh numpang lewat, numpang istirahat, bahkan numpang buang hajat. Jangan takut dicap tidak menarik, tidak penting, tidak baru, tidak gaul, atau tidak asyik. Sebab, semua yang bersumber dari hati selalu menawan. Jangan ambil pusing dengan segala penilaian. Jadi, silahkan mampir tanpa khawatir.
Jumat, 10 Oktober 2014
Sabtu, 13 September 2014
Memilih ''The Third Way'' (2)
23 Oktober 2006 pagi. Hari ini aku memutuskan untuk tetap
berpuasa. Aku sudah mantap mengikuti keputusan pemerintah pusat yang menetapkan
1 Syawal jatuh pada 24 Oktober. Berbeda dengan sebagian saudaraku dari kalangan
Muhammadiyah dan Pengurus Wilayah NU Jawa Timur yang tahun ini kompak untuk
mengakhiri ibadah puasa pada 22 Oktober lalu.
Pagi ini, mereka menjalankan salat Id. Pemkot Surabaya juga
memutuskan untuk berlebaran pada 23 Oktober, sedangkan Pemprov Jatim tetap
mengikuti jadwal lebaran yang ditetapkan pemerintah pusat, yakni 24 Oktober.
Mulai pagi ini plus besok, mayoritas wartawan, redaktur, dan
teman-teman lain dari koran ini sudah mulai menjalani masa liburan singkatnya.
Hanya tim koran lebaran (korleb) yang tetap masuk. Sebagai anggota tim korleb,
aku kebagian jatah untuk membuat tulisan mengenai suasana berlebaran tiga tokoh Surabaya
yang telah salat Id pada 23 Oktober. Mereka adalah Rektor ITS M.Nuh, Ketua PW
NU Jatim Ali Maschan Moesa, dan Walikota Surabaya Bambang D.H.
Perjalanan pagi itu aku mulai dengan menemui Pak Nuh yang
menjadi khatib salat Id di Stadion Gelora 10 November. Dari sana aku langsung ngintil di belakang
mobil yang membawa Pak Nuh pulang ke kediaman. (Alamatnya lupa...he.he.he. Soalnya, korleb versi pdf tahun itu masih belum terlacak, sedangkan koran versi cetak yang
dulu sempat tersimpan juga sudah hilang)
Pagi ini, mereka menjalankan salat Id. Pemkot Surabaya juga memutuskan untuk berlebaran pada 23 Oktober, sedangkan Pemprov Jatim tetap mengikuti jadwal lebaran yang ditetapkan pemerintah pusat, yakni 24 Oktober.
![]() | |
|
Aku berada di rumah Pak Nuh hampir selama satu jam.
Mengikuti acara maaf-maafan keluarga yang sebenarnya sangat privat. Untungnya,
Pak Nuh dan keluarga sudah memahami style koranku. Jadi, mereka sangat wellcome dengan kehadiranku.
![]() |
BERBAKTI: Pak Nuh mencium tangan ibunda sepulang dari salat Id. |
Dengan ramah, Pak Nuh
mengajakku gobrol ringan sembari meladeni tetangga dan kerabat yang datang
silih berganti. ''Kalau soal hidangan di rumah saat lebaran, yang pasti selalu ada apa ya Pak Nuh?,'' tanyaku. ''Sop kepala kambing. Ini yang paling top.
Wajib dicoba,'' jawab Pak Nuh. ''Eh, tapi kamu masih puasa ya? Sudah, nanti
bawa pakai rantang. Enggak boleh ditolak. Buat berbuka nanti bareng teman-teman
di kantor,'' lanjut pria kelahiran Surabaya,
17 Juni 1959 itu.
Alhasil, pagi itu aku meninggalkan rumah Pak Nuh dengan
menenteng rantang berisi kepala kambing utuh. Lengkap dengan lidahnya, matanya,
bibirnya, giginya, semuanya. Kebetulan sop kepala kambing adalah salah satu
menu pavoritku. ''Biar kamu tidak repot, rantangnya nanti enggak usah
dikembalikan,'' pesan Pak Nuh, lantas tersenyum.
(Begitulah Pak Nuh yang tujuh bulan kemudian ditunjuk SBY menjadi Menteri Komunikasi dan Informatika dan mulai 2009 didapuk menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan).
(Begitulah Pak Nuh yang tujuh bulan kemudian ditunjuk SBY menjadi Menteri Komunikasi dan Informatika dan mulai 2009 didapuk menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan).
Road show hari itu masih terus berlanjut ke kediaman Kiai Ali
Maschan dan rumah dinas Pak Walikota Bambang D.H. Alhamdulillah, masih sempat
(di antaranya) memotret acara sungkeman masing-masing keluarga. Sekali lagi,
mohon maaf lahir dan batin.
![]() |
| SALING MENGIKHLASKAN: Sungkeman Kiai Ali Maschan bersama istri, Mai Yetti. |
![]() |
| HARMONIS: Sungkeman keluarga Walikota Surabaya Bambang D.H. setelah mengikuti salat Id di Taman Surya pada 23 Oktober 2006. |
to be continued...
*Foto-foto diambil dengan kamera ''poket'' Samsung Digimax A40.
Senin, 08 September 2014
Memilih ''The Third Way'' (1)
Ujian terberat menjadi wartawan di koran ini akhirnya terungkap juga.
Terbongkar dengan sendirinya.
Tanpa didahului kicauan seorang whistle blower, maupun bocoran dari sumber.
Yang jelas ujian terberat itu bukan ''muntaber'' selama dua atau tiga hari berturut-turut. Muntaber itu singkatan dari ''muncul tanpa berita''. Maksudnya koran terbit tanpa ada satu pun berita yang kita tulis di dalamnya. Meskipun menyedihkan dan memalukan, itu sih masih tergolong kejadian biasa. Solusinya : tetap tertawa, makan, dan tidur. Besoknya, liputan lagi, ke kantor lagi, lalu bikin berita lagi.
Dimarahi redaktur karena berita yang ditulis belum masuk kriteria layak JP? Ah, itu juga biasa. Apalagi, masih tergolong wartawan baru, eh calon wartawan. Solusinya masih sama : tetap tertawa, makan, dan tidur. Besoknya, liputan lagi, ke kantor lagi, dan bikin berita lagi.
Jadi, apa ujian terberat itu? Ini jawabannya saudara-sedulur : tidak bisa mudik saat lebaran. Bukan karena gaji dari koran ini tidak cukup untuk ongkos mudik, melainkan akibat jatah libur lebaran yang sangat sempit. Hanya dua hari, yakni H-1 lebaran dan lebaran hari pertama. Memasuki H+1 lebaran, semua awak redaksi, tanpa terkecuali, sudah harus masuk kantor dan kembali beraktivitas normal.
Libur yang hanya dua hari itu mungkin bukan masalah bagi teman-teman yang mudiknya masih di sekitar Jawa Timur, Jawa Tengah, atau Jogjakarta. Meskipun pasti terkena imbas macet akibat padatnya arus mudik, namun relatif masih bisa diatasi. Bahkan, tetap dapat dinikmati. Libur yang hanya dua hari itu benar-benar menjadi menjadi masalah dalam konteks kondisiku sebagai perantauan dari luar Jawa.
Untuk mudik ke kampungku di pelosok negeri segantang lada (julukan Provinsi Kepulauan Riau), butuh waktu setidaknya empat hari. Itu hanya sekadar perjalanan pergi (pesawat plus menyeberang dengan kapal sampai dua kali), sungkeman sambil bercengkerama dengan orang tua dan keluarga selama 4 jam, numpang tidur 6 jam di malam yang sama, kemudian menjelang subuh langsung balik lagi ke Kota Pahlawan.
![]() |
| CARI SIMPATI: Bila di ruang keberangkatan banyak kondektur
dan calo berebut penumpang, di halaman depan terminal juga banyak berdiri
posko-posko kesehatan milik parpol. |
Akhirnya, mau tidak mau, aku tidak mudik. Opsinya kini tinggal dua. Berlebaran di Malang sambil bersilaturahmi ke rumah calon mertua atau gabung bersama keluarga paman di kawasan tapal kuda, Situbondo.
Saat sedang menimang-nimang kedua opsi itulah, muncul ilham untuk memilih jalan alternatif. Semacam the third way –meminjam istilah Anthony Giddens, seorang sosiolog asal Inggris. Jalan ketiga yang sangat dramatis itu adalah bergabung dengan tim koran lebaran (korleb). Wow...
Koran ini memang koran yang selalu terbit di semua tanggal merah, termasuk Idul Fitri. Keputusan untuk tetap terbit saat lebaran itu, kalau tidak keliru, mulai berjalan tahun 2003. Khusus saat Idul Fitri, tidak semua awak redaksi dan supporting system ikut masuk. Paling hanya seperlima dari total kekuatan saat hari normal. Selain berdasarkan giliran, pilihan untuk bergabung dengan tim korleb ini terkadang juga merupakan panggilan batin. Seperti aku, aku, akuuuu…yang telah menganggapnya sebagai the third way. (kwkwkwk)
Tetapi, kalau direnungkan, keputusan koran ini untuk tetap terbit saat Idul Fitri sebenarnya sudah tepat. Tengok saja, televisi dan radio masih mengudara menghibur pemirsa. Media online juga terus meng-update berita. Kalau koran ini menjadi satu-satunya koran cetak yang tetap terbit saat lebaran, itu bukan karena perusahaan ini tidak manusiawi atau kemaruk untuk terus mengumpulkan pemasukan dari iklan. Koran ini hanya ingin membuktikan bahwa media cetak tidak kalah dari berbagai alternatif media lain yang tetap menyuguhkan karya. Toh tidak semua awak redaksi ikut masuk. Hanya beberapa orang yang komposisinya selalu berganti setiap tahun. Mengapa hanya jurnalis televisi, radio, dan online yang konsisten berburu berita terbaik sambil mengucap takbir dalam hati di malam yang fitri? Mengapa jurnalis koran harus mendapatkan keistimewaan? Apa karena jurnalis koran memang sudah kalah militan? Apa memang koran sudah saatnya dikubur jauh di bawah kerak bumi? Koran ini sudah menjawabnya dengan terus terbit!
Sekali lagi, keputusan koran ini untuk tetap terbit saat Idul Fitri sudah seratus persen tepat. Cuma mungkin perlu difikirkan kembali kemungkinan jatah libur lebaran yang lebih longgar. Termasuk buat WNI (wartawan narsis imigran) dari luar Jawa sepertiku. Sekali-sekali aku juga ingin kembali memeluk orang tua, sanak saudara, dan teman-teman masa kecil di pagi nan fitri. Yak…seribu kali tepok jidat. Prok.prok.prok…prak.
to be continued...
*Foto-foto diambil dengan kamera ''poket'' Samsung Digimax A40.
Minggu, 24 Agustus 2014
Kameraku, Asetku
1 September 2006. Akhirnya, tiba juga waktu untuk mencicipi gaji pertama di koran ini. Jangan tanya jumlahnya. Yang jelas, nominalnya lebih tinggi di atas UMK Surabaya. Cuma tidak terlalu tinggi juga. Rekeningku pun tambah gendut. Cuma tidak terlalu gendut juga. Ya...pas-lah. (Ya...sudah-lah)
Beberapa hari sebelum gaji itu ditransfer kantor, aku sudah punya rencana. Aku akan membeli kamera poket. Seorang wartawan, idealnya memiliki kamera. Meskipun koran ini memiliki banyak fotografer handal, sebuah peristiwa tidak pernah mau menunggu. Peristiwa yang penting atau menarik bisa jadi hanya berlangsung selama beberapa detik. Sayang sekali bila momen itu terlewatkan. Padahal, foto yang diperoleh wartawan bukan sekadar pelengkap berita. Hadirnya foto itu justru bisa mengkapitalisasi kualitas berita hingga berkali-kali lipat. Sebaliknya, tanpa foto, bisa jadi sebuah berita akan terjerembap menjadi tidak lagi terlalu berharga. Satu foto kecil di pinggiran halaman pun bisa menjadi penyelamat tampilan koran.
Namun, niatku untuk membeli kamera digital bukan semata-mata soal dedikasi. (cieee...) Memiliki kamera digital kebetulan merupakan keinginan lama yang belum sempat terealisasi. Bukan karena tidak punya uang. Saat lulus kuliah, aku sebetulnya sudah punya tabungan yang cukup lumayan. (cieee...) Hasil dari aktivitas menulisku selama berstatus mahasiswa. Bahkan, komputer di kamar kos dan handphone juga aku beli sendiri dari uang hasil aktivitas tulis-menulis itu. Cuma sebelumnya, entah kenapa, aku selalu menunda-nunda untuk membeli kemera digital.
Setelah menjadi wartawan, aku semakin termotivasi untuk segera membelinya. Banyak momen menarik yang sayang bila tidak diabadikan. Membeli kamera ini akhirnya lebih sebagai kebutuhanku sendiri. Toh di luar kepentingan tugas jurnalistik, kamera ini bisa dipakai buat narsis bareng teman-teman, saat jalan-jalan, atau untuk selfie di kamar mandi.
Setelah tanya sana sini, akhirnya pilihanku, eh lebih tepatnya ''kekuatan'' gaji pertamaku hanya setara kamera Samsung Digimax A40. Sesuai harganya, resolusi maksimumnya juga cuma 4 mega pixel. Untuk ukuran waktu itu, kamera poket semacam ini sudah cukup lumayan. Ya...pas-lah. (Ya...sudah-lah)
Kelemahan alamiah dari kamera ini tentunya jarak efektif flash kamera yang relatif pendek. Berdasarkan pengalaman, jarak aman untuk menghasilkan foto yang lumayan bagus harus kurang dari lima meter. Di atas itu, kualitas gambar sudah tidak lagi optimal. Biasanya buram, karena kurang pencahayaan. Akhirnya, mau tidak mau, dengan membuang semua perasaan sungkan atau malu, sambil tetap senantiasa menjaga etika dan kesopanan, aku harus berusaha mendekat sedekat-dekatnya ke obyek foto. Kalau perlu sampai embusan nafasnya mengukir di wajahku dan embusan nafasku menerbangkan semua debu atau bedak di wajahnya. (kwkwk)
Beberapa bulan setelah memiliki kamera ini dan posisi penugasan dipindah ke Jakarta, aku mendapatkan teori dasar fotografi yang sangat penting. Bukan tentang setting kamera yang ribet atau tetek bengek pencahayaan, tetapi tentang cara memegang kamera yang benar. Memang sederhana. Tetapi, ini justru sangat mendasar.
Orang yang berbagi ilmu itu bernama John Mohn. Dia adalah bule pemilik koran lokal, Ellinwood Leader, sekaligus orang tua asuh Dirut PT Jawa Pos Koran Azrul Ananda saat mengikuti program pertukaran pelajar di Ellinwood High School, Kansas, Amerika (1993-1994). Selama mengikuti program pertukaran pelajar itu, Azrul ikut berkonstribusi sebagai fotografer sambil sesekali menulis untuk mengisi rubrik Eagles di Koran Ellinwood Leader. Kebetulan rubrik Eagles memang dikerjakan tim jurnalistik SMA.
Saat memberikan paparan mengenai jurnalistik di hadapan awak redaksi Jawa Pos biro Jakarta, John Mohn meminta kami menunjukkan kamera yang dibawa saat liputan. Begitu melihat kamera poketku yang mungil, John Mohn langsung mengambilnya. ’’Cara memegang semua kamera, pada dasarnya sama. Kamu harus memegangnya seperti seorang pemburu yang sedang memegang senapan. Jangan naik turun. Harus stabil agar gambar yang dihasilkan baik,’’ kata John Mohn. Dia lantas menunjukkan bahwa memegang kamera dengan posisi tangan dalam posisi lurus ke depan itu salah. Sebab, saat tombol shutter ditekan, posisi kamera pasti akan ikut bergerak turun. Yang benar adalah siku tangan harus tertekuk dan tanpa celah pada bagian ketiak. Posisi ini lebih stabil. ’’Ingat seperti pemburu,’’ tegas John Mohn.
Ada beberapa hasil jepretanku dengan menggunakan kamera poket yang file-nya sempat tersimpan. Banyak juga yang file-nya terlanjur kehapus atau error. Kualitasnya jelas masih jauh di bawah karya fotografer. Cuma aku tidak peduli. Memandang dan mengingatnya tetap memberikan rasa kepuasan tersendiri. Aku menikmati prosesnya. Apalagi, beberapa foto ini sempat ikut mewarnai tampilan koran. Ada yang nempel di pinggiran, ada juga yang nongol menjadi foto berukuran paling besar di halaman.
Mengapa Melamar?
’’Sejak masuk ke dunia kampus, secara perlahan aku mulai mengenal dunia gerakan dan tulis menulis. Sebuah dunia dinamis yang membuat aku selalu merasa bergairah dan berbahagia. Aku seperti menemukan diriku sendiri.
Pintu masukku ke dunia tulis menulis secara serius sebenarnya berawal dari ajang lomba karya tulis ilmiah bagi mahasiswa baru yang diadakan oleh kampusku. Selanjutnya, seperti orang gila, aku kian aktif mengikuti berbagai lomba penulisan yang juga cukup sering diadakan oleh institusi-institusi lainnya. Jujur saja, yang menjadi orientasi utamaku ketika itu adalah kemenangan, kebanggaan, dan uang hadiah. Pada faktanya, berkali-kali aku berhasil mendapatkan itu semua. Aku senang, tetapi dalam waktu yang bersamaan aku merasa seperti ada yang masih kurang.
Prosesku dengan beberapa orang-lah yang kemudian memberiku banyak pencerahan. Aku akhirnya paham, jika kita berhenti pada motif yang sifatnya pragmatis dan materialistis semata, maka ketika berhadapan dengan masalah, kita akan lebih gampang mengalami disorientasi, kekecewaan, dan keputusasaan. Bahkan dari sudut pandang agama, sesungguhnya kita telah masuk ke dalam golongan orang-orang yang merugi.
Aku pun berusaha menyempurnakan niat. Aku mencoba untuk memandang menulis sebagai bagian dari ibadah dan pengabdian kepada masyarakat. Aku ingin menjadi bagian dari proses perubahan. Bahkan, kalau bisa, aku ingin ikut mendorong terjadinya sebuah pencerahan. Karena itu, aku ingin terus memiliki kesempatan untuk menulis dan menjadikannya sebagai pilihan jalan hidup. Menjadi wartawan koran ini, aku harap dapat menjadi jalan untuk melanjutkan mimpi dan idealisme itu. Mudah-mudahan saja!’’. (Tulungagung, 16 Juli 2006)
----------------------
Inilah empat paragraf terakhir dari tulisan yang kubuat delapan tahun lalu. Tulisan yang menjadi salah satu persyaratan untuk mengajukan lamaran ke koran ini. Kubuat di Tulungagung di sela-sela menggarap proyek penelitian terkait keuangan daerah dengan budget superminim. Di luar, langit sudah gelap dan gerimis mulai membentuk garis. Dengan disaksikan beberapa teman yang ikut penelitian tersebut, aku mulai mengetik tulisan pendek sepanjang tujuh paragraf yang intinya menjelaskan : mengapa aku tertarik menjadi wartawan. Beberapa di antara mereka saat itu masih menganggap aku tidak terlalu serius untuk mengajukan lamaran. Padahal...he.he.he
Sabtu, 16 Agustus 2014
Hanya Tiga Bulan
Tanggal penting itu adalah 3 Agustus 2006. Kamis Pahing. Inilah hari pertama resmi menjadi wartawan. Ups, lebih tepat disebut calon wartawan. Aktivitas hari pertama saat itu adalah pembekalan di kelas. Semacam diklat singkat jurnalistik. ’’Pak Bos’’ Dahlan Iskan juga sempat datang memberi wejangan. Tidak terlalu lama, sekitar 30 menit saja. Intinya, soal konsep berita layak JP. Maksudnya, berita yang sudah dianggap memenuhi standar untuk dimuat koran lain belum tentu masuk kriteria layak dimuat koran ini. Kegiatan di kelas terus berlangsung sampai sore. Para redaktur menjadi pemateri secara bergantian.
Menjelang magrib, kami semua diminta menuju ruang redaksi. Ruangan luas yang saat pagi hingga siang masih tampak sepi itu kini benar-benar hidup. Puluhan wartawan yang seharian berkeringat melakukan liputan telah datang dan sibuk mengetik di mejanya masing-masing. Kami, para newcomer, lalu diminta untuk berdiri mengambil posisi melingkar di sekeliling meja bundar yang terletak di tengah ruang redaksi. Olala, rupanya meja bundar besar ini adalah meja sakral. Tempat para redaktur menggelar rapat harian untuk menentukan arah koran edisi besok. Termasuk, untuk menerima tamu-tamu perusahaan. Setelah itu, kami diberi mikrofon dan secara bergiliran memperkenalkan diri. Gema tepuk tangan terus terdengar mengiringi acara perkenalan singkat itu. Rasanya sesuatu banget. Very amazing–meminjam istilahnya Mas Tukul.
Memasuki hari kedua, seorang di antara 20 wartawan seangkatanku mendadak mengundurkan diri. Entah apa alasannya. Kami merasa sangat kehilangan. Bukan apa-apa. Kehadirannya, meski hanya sehari, terbukti mampu menjadi semacam relaksasi yang dapat melemaskan lutut, pundak, dan kaki. Ha.ha.ha. Pada hari kedua inilah, kami mulai membuat dan memiliki kode.
Setiap wartawan di koran ini memang memiliki kode yang selalu dicantumkan di bagian akhir tulisan beritanya. Minimal dua huruf dan paling banyak tiga huruf. Terserah apa saja. Huruf vokal semua boleh. Huruf konsonan semua juga silahkan. Suka-suka setiap wartawan, karena difikirkan dan dipilih sendiri oleh wartawan bersangkutan. Umumnya menggunakan inisial nama atau penggalan suku kata namanya. Kode ini sangat personal, karena sekaligus menjadi nama panggilan dalam pergaulan sehari-hari di kalangan redaksi. Makanya, kami sangat berhati-hati dalam memilih kode. Sebab, ini menyangkut harga diri, eh identitas diri. Setahuku sampai sekarang belum ada yang menggunakan kode ''til'' atau ''tol''. Mungkin takut dipelintir menjadi....buntil dan pentol (keduanya nama makanan). Seperti sidik jari antarmanusia yang selalu berbeda, tidak ada wartawan aktif di koran ini yang kodenya sama.
Saat itu, aku memilih kode ’’phd’’. Ini merupakan inisial namaku dalam format tiga huruf. Namun, di balik itu, penggunaan kode ini juga mewakili doa yang masih kupelihara : ’’Mudah-mudahan nanti terbuka jalan untuk jadi doktor’’. Doa yang –belakangan kupahami –dalam konteks profesi ini dan situasi waktu itu agak terdengar aneh. Tapi, apapun itu, semua teman seangkatanku terlanjur membaptisku dengan kompak : amiiiin...
Hari ketiga, kami mulai dilepas ke lapangan untuk praktik liputan dan menulis berita. Terserah mau ke mana, mau bikin berita apa, atau wawancara siapa saja. Yang penting, pulang bawa berita layak JP. Meskipun status kami masih ’’trainee’’, berita yang dianggap layak JP, berpeluang untuk dimuat. Malamnya semua berita yang kami tulis dibedah bersama redaktur. Termasuk, pengalaman yang dialami saat proses mendapatkan berita itu. Ilmu terbaik memang ilmu yang langsung diserap atau dikonfirmasi kepada pengalaman lapangan. Kemampuan jurnalistik pasti akan berkembang dengan sendirinya melalui praktik liputan.
Memasuki minggu kedua, ladang penugasan semakin jelas. Aku kebagian pos kriminal Kota Surabaya. Pertimbangannya sederhana. Di antara teman-teman seangkatanku, wajahku yang dianggap paling pantas masuk daftar pencarian orang (DPO). Wajah kucel dengan kombinasi jaket jins warna hitam. Klop untuk berurusan dengan para penjahat dan polisi.
Padahal, menjadi wartawan kriminal sama sekali tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Selama ini, interaksiku dengan polisi paling hanya dalam dua kondisi. Pertama, saat demo. Kedua, saat kena tilang. Tempat kejadian perkara (TKP) sama-sama di jalanan. Sudut pandangku seperti dijungkir balik. Aku tidak yakin perasaanku saat itu. Yang aku ingat, aku hanya merasa tertantang. Bagiku semua tantangan harus dihadapi. Tidak peduli menang atau kalah. Ini sudah semacam penyakit kejiwaan yang sulit disembuhkan. Padahal, seringkali arogansi ini membuatku terperangkap dalam situasi yang rumit dan kompleks di kemudian hari.
Begitulah, menjadi wartawan tetap suatu dunia yang benar-benar baru. Semasa mahasiswa, aku memang kerap berhubungan dengan sejumlah wartawan di Kota Malang. Silaturahmi dengan teman-teman pers kampus pun terbilang dekat. Saat itu, aku juga ’’super aktif’’ dalam dunia penulisan. Berkali-kali menang lomba karya tulis. Banyak artikelku sukses menembus media. Tapi, aktivitas dan karyaku dalam periode itu jelas bukan aktivitas dan karya jurnalistik. Dunia penulisan yang sebelumnya kugeluti sangat jauh berbeda. (Nanti akan aku detilkan melalui tulisan yang lain)
Tetapi, wartawan tidak boleh menolak penugasan. Diberangkatkan kemana saja harus siap. Aku pun mulai wira-wiri dari satu polsek ke polsek lain atau dari satu TKP ke TKP lain. Aku ditandem dengan ’’CK’’, wartawan asli arema yang berjarak tiga musim rekrutmen di atasku. Waktu itu, dia kebetulan baru mengalami kecelakaan sepeda motor. Tangannya yang sebelah kiri masih dibalut gips. Namun, semangatnya untuk liputan tidak pernah surut. Meskipun hanya menggunakan satu tangan, dia masih mampu merampungkan tulisan di komputer dengan cepat. Sepertinya dia memang sangat terlatih beraktivitas dengan satu tangan itu. Hus....kwkwkwk
Dari CK, aku belajar untuk lebih luwes dalam berinteraksi. Baik dengan polisi, maupun perempuan. kwkwkwk. Enggak, yang tadi cuma bercanda. Yang benar adalah : baik dengan lawan jenis, maupun petugas keamanan...ha.ha.ha
Intinya, bagaimana membangun kedekatan dengan intel lapangan, penyidik yang bergaya perlente, kapolsek, polisi tua di balik meja jaga, sampai pelaku kriminal yang mukanya penuh benjut, hajarrr. Sesekali pasang gaya garang, sesekali siap ndan! Saat inilah aku meresapi makna tentang doktrin : jangan sampai kebobolan berita dan jangan sampai kalah data. Sebaliknya, kita harus bisa mengalahkan berita koran lain. Untuk itu, harus detil, peka terhadap semua informasi sekecil apapun itu.
Tetapi, perjalananku di pos kriminal tidak berumur panjang. Awal September, saat pengalamanku masih seumur jagung, saat teman-teman seangkatanku mulai memberiku label wartawan ’’dar der dor’’, aku digeser ke DPRD Jatim dan Pemprov Jatim. Eh, dar der dor itu salah satu nama rubrik dalam halaman kriminal. Konsepnya adalah mengeksplorasi potensi humor di balik sebuah berita kriminal. Kalau pun tidak bisa membuat pembaca terpingkal-pingkal, setidaknya mesem. (Mesem mergo beritamu ora lucu blas, ndeng). Nah, aku termasuk kontributor tetap rubrik dar der dor yang posisinya selalu berada di pinggir halaman ini. he.he.he
Masuk ke pos baru di gedung dewan dan kantor pemprov, aku ditandemkan dengan ’’FS’’, wartawan yang jauh lebih senior. Satu ciri khasnya, kemana-mana selalu mengenakan topi. Saat rapat pengumuman adanya rolling pos wartawan inilah, Mas FS (bersama Cak ’’S’’) mendorongku untuk mengganti kode phd. ’’lek kode'ne mbulet, biasa'ne engkok jadi wartawan mbulet (kalau kodenya ruwet, biasanya nanti juga jadi wartawan yang ruwet),’’ kata Mas FS. ’’Kodemu iki ora (ini enggak) hoki,’’ timpal Cak S. Saat rapat itu juga, Mas FS dan Cak S mengusulkan agar aku mengganti kode phd menjadi pri. Akhirnya, tanpa selamatan, tumpengan, atau makan-makan, malam itu kodeku resmi didaulat menjadi pri dan terus kupakai sampai sekarang.
Pos baru, pengalaman baru, ilmu baru. Lagi-lagi aku dipaksa untuk belajar dan menyesuaikan ritme dengan cepat. Begitu masuk DPRD, para anggota dewan ternyata sedang menjalani reses. Ini adalah masa liburan, eh, masa bagi para wakil rakyat untuk bertemu konstituen dan menjaring aspirasi di daerah pemilihannya (dapil) masing-masing. Otomatis mereka tidak punya kewajiban untuk datang berkantor di gedung dewan. Di sisi lain, aku belum terlalu familier dengan isu-isu politik level Jatim.
Paceklik itu akhirnya datang juga. Hari ketiga di gedung dewan, aku panik setengah mati. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 14.00. Belum punya satu berita pun. Mati angin. Enggak ada ide untuk mewawancarai siapapun. Sudah tujuh kali tawaf keliling gedung dewan, tidak ketemu siapa-siapa. Tidak ketemu anggota dewan. Tidak ketemu rekan wartawan. Aku benar-benar sendirian. Hanya beberapa ekor ikan yang berlarian di tengah kolam. Oh, Tuhan. (Lebay le!)
Akhirnya, satu sms aku kirimkan ke Mas FS. Lama tak ada jawaban. Saat sudah bersiap-siap untuk salat istikarah minta petunjuk, tahu-tahu ada sms masuk. Balasan dari Mas FS. ’’Nang endi? Mreneo. (Di mana? Ayo ke sini)’’. ’’Sampeyan di mana?,’’ balasku. Mas FS bilang sedang berada di ruang pojok lantai dua. Tanpa fikir panjang, karena memang sudah tidak bisa berfikir lagi, aku segera merapat. Kebetulan aku tahu ruang yang dimaksud.
Pintu ruang pojok yang sering kosong itu pun kubuka perlahan. Tidak ada siapa-siapa di dalamnya. Aku baru saja balik badan ketika terdengar suara orang memanggilku. ’’Aku ndek ngisor (aku di bawah),’’ kata suara itu. Sambil membaca doa sebelum makan (Allahumma barik lana fima razaqtana waqina athabannar), karena hanya itu yang masih bisa kuingat, aku bergerak melongok ke kolong meja kayu berukuran lumayan besar itu. Dan, jebret, ternyata Mas FS sedang tidur-tiduran di sana. Aku merasa lega. Di sebelahnya, aku merasa aman. (indikasi homo?)
Begitu melihat raut wajahku, layaknya peramal, Mas FS langsung mafhum bahwa aku belum punya berita. Dia lantas menceritakan kepadaku sebuah isu yang sedang berkembang di internal dewan, kemudian menyuruhku menghubungi beberapa nama. Dia sendiri kemudian terdengar asyik ngobrol melalui handphone–tetap dalam posisi di bawah meja.
Ah, lumayan, akhirnya punya berita. Aku bisa pulang ke kantor dengan membusungkan dada. He.he.he Malam itu, aku menulis dua berita. Salah satunya yang bersumber dari Mas FS. Sebelum diserahkan ke redaktur, berita itu masih ’’ditambahi’’ lagi oleh Mas FS. Kode kami berdua muncul di berita itu. Satu berita lagi kudapat sendiri saat injury time. Soalnya, malu juga kalau cuma setor satu berita. Mas FS sendiri masih menulis dua berita lagi. Salah satunya menjadi headline di halaman dalam. Keesokan harinya, sejumlah wartawan koran lain yang juga ngepos di gedung dewan terlihat lemas. Berita yang menetas di kolong meja itu ternyata hanya dimiliki oleh Mas FS alias eksklusif.
Dari kejadian itu, aku akhirnya memahami doktrin : tiada hari tanpa berita (eksklusif). Seorang wartawan mau tidak mau harus selalu punya berita, apapun kondisinya. Tentunya bukan berita asal ada, melainkan berita menarik yang lahir dari ide kreatif. Untuk bisa selalu memiliki ide kreatif yang dapat dikembangkan menjadi berita, wartawan harus memahami isu-isu hangat dan permasalahan sesuai konteks posnya masing-masing. Bukan hanya memahami kulit, tapi betul-betul menyelami secara detil setiap lekuk dan jepitannya. (opo sih)
Kuncinya sederhana saja, yakni peka dan suka nglutus. Bagi yang bukan orang Jawa, nglutus itu kurang lebih artinya berkeliaran suka-suka dengan penuh antusias. Seperti orang gila, tetapi antusias. Antusias, tetapi gila. Ini tafsir saya sendiri. Jangan protes kalau tidak mau dikira gila.
Membangun kedekatan dengan narasumber juga penting. Bukan hanya narasumber resmi (formal), namun juga narasumber ''kaum pinggiran'' (informal). Misalnya, orang yang biasa bertugas menyediakan kopi atau fotokopi. Penjaga kamar mayat di rumah sakit atau ibu-ibu penjaja warung yang bersebelahan dengan pos polisi. Seringkali informasi awal yang sangat berharga datang dari mereka.
Namun, petualanganku di DPRD dan Pemprov Jatim ternyata juga tidak berjalan lama. Sekitar awal November 2006 (tanggal persisnya lupa), aku diperintahkan kantor untuk berangkat ke Jakarta. Tidak ada negosiasi, apalagi penolakan. Ini perintah yang harus dijalankan. Aku sempat merasa sengaja dibuang. Merasa dianggap tidak layak di Surabaya, bahkan menjadi warga koran ini. Tetapi, penyakit kejiwaanku langsung kambuh. Aku merasa ini tantangan yang harus dihadapi. Tidak peduli hasilnya menang atau kalah. Yang penting tawur dulu. Yang penting gaprak-gaprakan dulu. Apalagi, beberapa redaktur, rekan wartawan sekantor, dan kawan liputan di DPRD Jatim terus menyemangatiku. Bersama rekan seangkatanku, yaitu NWA, kami pun berangkat ke Jakarta. Setelah tiga bulan di Surabaya, kini waktunya mengucapkan assalammu'alaikum kepada ibukota negara.
Langganan:
Postingan (Atom)




































