Aku tidak percaya adanya ''skenario besar''. Suatu
kebetulan, tidak peduli sebanyak dan seberuntun apapun itu, tetaplah
kebetulan. Tidak lebih. Aku hanya mengamini adanya hukum alam yang diciptakan
sang maha segalanya (sunatullah). Aku juga mengimani semua hal yang terjadi di semesta ini, mulai bergugurnya dedaunan hingga tabrakan antarbintang, terjadi dengan sepengetahuan dan izin sang maha segalanya. Namun, aku tetap tidak percaya skenario besar. Seolah semua sudah ditentukan dan manusia hanya bisa pasrah. Bagiku ini mengingkari ''takdir'' manusia sebagai khalifah.
Jatuhnya sebutir apel dari pohon ke tanah bukan karena
adanya skenario besar, melainkan akibat bekerjanya hukum alam pada apel
tersebut. Bisa jadi tangkai apel sudah tidak mampu lagi menahan gaya yang timbul akibat
terpaan angin atau tersenggol sayap codot yang kelaparan. Prinsipnya, semua bisa dijelaskan dengan
menggunakan logika alias ada teorinya.
Kemiskinan yang menyelimuti seorang manusia juga bukan
karena skenario besar. Ada
teori sosial dan politik ekonomi yang bisa menjelaskannya.
Aku menolak untuk memercayai skenario besar, karena cuma merekomendasikan doa dan keikhlasan sebagai solusinya.
Sejarah membuktikan pemahaman dan penguasaan terhadap hukum
alam, termasuk konsep-konsep sosial, adalah kunci terpenting untuk membangun peradaban. Sebaliknya, kaum yang
menyibukkan diri untuk mereka-reka skenario besar hanya akan terpuruk dalam
ketertinggalan, kebodohan, kejumudan, dan kemiskinan. Tidak ada skenario besar,
yang ada hanya skenario individu atau kelompok.
Namun, malam ini, ada sesuatu yang agak berbeda. Di
depanku mendadak muncul serangkaian kebetulan. Tapi, harap digarisbawahi, bagiku ini
tetap sebuah kebetulan. Tidak lebih. Baru saja aku menemukan kembali sehelai kertas bergambar ''lambang''
yang kubuat sekitar 16 tahun lalu. Saat itu, aku duduk di bangku kelas 2 SMA. Lambang
itu, seingatku, menggambarkan ledakan ambisi dan ketidakpuasan. Semacam token atau lambang yang mewakili kesejatian diri. Beberapa tahun belakangan ini, sempat bolak-balik terpikir
untuk menjadikannya tato di lengan sebelah kanan. Tetapi, hingga kini belum terealisasi.
Masih belum berani. Takut (if) salat tidak diterima. Jadi, mungkin suatu waktu nanti : ya tatonya, ya salatnya.
Akar dari simbol ini sebenarnya sederhana. Yakni, rangkaian
dua huruf : P dan H, inisial namaku. Saat membuatnya, aku membayangkan
kedua huruf itu menjelma menjadi sebilah keris pusaka peninggalan sebuah kerajaan tua. Sarung atau warangkanya dari kayu cendana.
Beberapa menit setelah memposting lambang ini aku terhenyak.
Tiba-tiba otakku mengajak untuk mencocokkan urutan huruf latin. Hasilnya,
benar-benar membuatku penasaran. P adalah huruf ke-16, sedangkan H huruf ke-8.
Malam ini kebetulan tanggal 16-8 atau 16 Agustus. Aku termenung. Sungguh, ini
kebetulan yang sama sekali tidak pernah aku bayangkan, apalagi rencanakan.
Namun, aku tidak mau mencari relasinya. Termasuk, terjebak
untuk menyelami ''skenario besar'' di balik kebetulan ini. Sekali lagi, bagiku
tidak ada skenario besar. Yang ada hanya interaksi dan pergesekan skenario antarindividu atau antarkelompok. Bila ada kebetulan yang membuat optimistis dan kebetulan yang
membuat pesimistis, maka anggap saja ini sebagai kebetulan kategori pertama (baca : yang membuat optimistis).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar